Dinas Kesehatan Lampung Tengah Tekan AKI-AKB

oleh Admin


Posted on 2018-09-10



Kematian ibu hamil saat melahirkan adalah kasus yang serius. Pada tahun 2013, diperkirakan sebanyak 289.000 ibu hamil meninggal dunia saat persalinan, turun dari 523.000 pada tahun 1990.

Tetapi saat ini, 800 ibu hamil setiap harinya masih sekarat karena komplikasi kehamilan dan persalinan di seluruh dunia, setara dengan 33 kasus per jam.

Pada akhir tahun 2015 saja, WHO melaporkan setidaknya 303.000 ibu hamil di seluruh dunia meninggal menjelang dan selama proses persalinan.

Di Indonesia sendiri, sepanjang tahun 2011-2015 terdapat 126 kasus kematian ibu hamil tiap 100.000 proses persalinan sukses.

Lebih dari seperempat angka kematian disebabkan penyebab tidak langsung, seperti infeksi pasca melahirkan, komplikasi aborsi, komplikasi persalinan, dan pembekuan darah.

Akumulasi dari sejumlah faktor risiko di atas tercatat memiliki peran dalam kematian ibu hamil di seluruh dunia hingga 80%.

Fakta-fakta tersebut secara eksplisit menjelaskan bahwa kematian ibu hamil menunjukkan lingkup yang luas, tidak hanya terkait dengan kematian yang terjadi saat proses persalinan, tetapi mencakup juga kematian ibu yang sedang dalam masa hamil dan nifas.

Fakta-fakta itu juga membedakan dua kategori kematian ibu hamil. Pertama, adalah kematian yang disebabkan oleh penyebab langsung obstetri (direct) yaitu kematian yang diakibatkan langsung oleh kehamilan dan persalinannya.

Kedua, adalah kematian yang disebabkan oleh penyebab tidak langsung (indirect) yaitu kematian yang terjadi pada ibu hamil yang disebabkan oleh penyakit dan bukan oleh kehamilan atau persalinannya.

Program pendampingan ibu hamil dalam rangka menekan atau menurunkan Angka Kematian Ibu-Angka Kematian Bayi (AKI-AKB) dianggap sangat penting, untuk itu Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Lampung Tengah sedang memaksimalkan program kesehatan masyarakat “Asah, Asih, dan Asuh”. Hal ini untuk menurunkan kasus kematian ibu hamil, bayi baru lahir, bayi/balita, gizi buruk dan stunting.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Lampung Tengah Ratoyo S.K.M mengatakan bahwa pembangunan kesehatan pada hakekatnya adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang.

Sehingga terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi tingginya, sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomis.

Keberhasilan pembangunan kesehatan sangat ditentukan oleh kesinambungan antar program dan sektor, serta kesinambungan dengan upaya-upaya yang telah dilaksanakan pada periode sebelumnya.

Lebih lanjut, Ratoyo menjelaskan sasaran pokok RPJMN 2015-1019 untuk sektor kesehatan di antaranya adalah: meningkatkan status kesehatan dan gizi ibu dan anak, meningkatkan pengendalian penyakit, serta meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan dasar maupun rujukan.

Untuk sasaran pertama sebagaimana tersebut di atas yaitu peningkatan status kesehatan maupun gizi ibu dan anak yang menjadi prioritas utama. Dalam Sustainable Development Goals (SDGs) mengingat masih tingginya kasus kematian ibu dan anak termasuk di Kabupaten Lampung Tengah.

Menurut Ratoyo, program “Asah, Asih, dan Asuh” memiliki definisi tersendiri. Asah merupakan peningkatan pengetahuan masyarakat (Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, Kader dan Masyarakat) tentang kesehatan ibu hamil, bayi dan balita melalui penyuluhan dan peningkatan kapasitas sehingga dapat membantu serta memberikan support dan pendampingan agar dapat terwujud ibu selamat dan bayi sehat.

Kemudian Asih adalah memberikan pendampingan dan support dengan pendekatan kekeluargaan dan penuh dengan kasih saying. Sementara Asuh ialah memberikan pelayanan dan perlindungan serta mencukupi kebutuhan dasar yang diperlukan.

Di samping itu, Dinkes Lampung Tengah membuat program penyuluhan untuk ibu hamil agar mendapat pendampingan. Dalam masa kehamilan dibutuhkan pengawasan dan konseling khusus, hal tersebut dilakukan agar dapat diketahui apakah ibu hamil tersebut tergolong memiliki resiko tinggi (resti) ataupun tidak.

Salah satu upaya untuk membantu ibu hamil terutama yang berisiko tinggi maka diperlukan sosok pendamping yang mengerti dan memahami sosial budaya masyarakat hingga bisa memberikan informasi, bimbingan dan motivasi kepada ibu hamil dan keluarganya dalam rangka mensukseskan program penurunan angka kematian ibu dan bayi.

Pendamping ini berasal dari petugas kesehatan tingkat kabupaten, puskesmas, bidan desa dan kader. Diharapkan, pendamping dapat mengerti akan fungsi masing-masing dalam proses pendampingan ibu hamil resiko tinggi. Bahkan mampu mencatat dan menyusun laporan kegiatan serta hasil monitoring dan evaluasi pendampingan ibu hamil resiko tinggi.